Shijo by Bus: Panduan Dasar Perjalanan Pertama di Kyoto

Saya Memegang Peta Rute Bus Shijo
Peta Rute Bus Shijo Dwija Arsana

Pertama kali tiba di Kyoto dari Tokyo, saya menginap di ibis Shijo. Bukan hotelnya yang ingin saya ceritakan, tapi momen kecil sebelum perjalanan menyusuri kota ini benar-benar dimulai. Momen ketika saya sadar, Kyoto akan saya jelajahi dengan cara yang berbeda.

Ketika saya sampai di hotel, saya disambu oleh dua orang front office, salah satu  staf bernama Goto (saya panggil Goto-san) menawarkan peta bus ukuran besar, hampir A1. Saya sempat berpikir, bahkan untuk negara semaju ini masih menggunakan media cetak yang notabene sudah ada google maps, namun begitu dibuka, saya seperti seorang explorer sejati yang mengandalkan peta untuk menjelajahi kota ini FEEL SO EXICITED!! Namun jelas terasa peta ini bukan peta yang dibuat asal-asalan. Goto-san menjelaskannya dengan sabar. Nomor bus, nomor halte, rute, dan destinasi yang bisa dijangkau dari Shijo. Semua jalur dibedakan dengan warna. Tidak ramai, tidak membingungkan, hanya terasa rapi dan masuk akal.

Sebagai orang yang cukup akrab dengan desain grafis dan fotografi, saya langsung merasa peta ini bisa dipercaya. Informasinya jelas. Tidak ada yang teriak minta diperhatikan. Semua tertata. Tapi tentu saja, paham di hotel tidak selalu sama dengan percaya diri di jalan.

Saat benar-benar berdiri di halte bus, keraguan mulai muncul. Ini bus yang benar atau tidak. Jalurnya sesuai atau saya salah baca. Di kepala saya mulai muncul pikiran paling sederhana. Sudah lah, kalau nyasar juga tidak apa-apa. Paling turun di entah halte mana, lalu cari seven eleven atau family mart.

Saya bersama dengan istri saya yang wajahnya terlihat sedikit khawatir. Dan di titik itu saya sadar, pasrah boleh, tapi tetap harus terlihat meyakinkan. Saya buka peta lagi. Menyamakan nomor bus di halte dengan yang ada di kertas. Cocok. Warnanya sama. Jalurnya sesuai. Kalau nyasar bukan masalah, itulah keseruan dari travelling.

Kami naik bus dan memilih area bagian depan. Posisi favorit saya setiap kali naik kendaraan umum di Jepang. Peta yang tadi terasa menakutkan perlahan berubah jadi teman. Setiap warna punya arah. Setiap nomor punya urutan. Saya mulai menerka-nerka bagaimana peta ini disusun. Logis. Sangat logis. Bahkan untuk orang yang baru pertama kali datang ke tempat ini.

Shijo akhirnya terasa seperti titik awal yang tepat. Dari satu rute ke rute lain, Kyoto tidak terasa rumit. Kota ini tidak membuat saya merasa bodoh karena belum hafal. Kalau pun salah, rasanya tidak apa-apa. Kyoto terasa cukup ramah untuk orang yang tersesat.

Liburan ini tidak dimulai dari tempat terkenal atau foto ikonik. Ia dimulai dari berdiri di bus, memegang peta besar, dan mencoba terlihat tenang di depan pasangan sendiri. Dan entah kenapa, itu justru menjadi salah satu momen paling menyenangkan.