Kenapa Saya Lebih Banyak Memotret dengan Handphone
Pertama, soal kepraktisan. Membawa kamera besar saat liburan rasanya berbeda dengan saat mengerjakan project foto. Saat bekerja, beban kamera terasa seperti bagian dari tanggung jawab. Saat liburan, beban itu justru terasa seperti penghalang untuk menikmati langkah kaki. Handphone selalu ada di saku, siap dalam hitungan detik, tanpa ritual membuka tas dan memasang lensa.
Kedua, saya sedang liburan, bukan bekerja. Ini poin yang terdengar sederhana, tapi sangat menentukan. Saat bekerja, saya berpikir tentang komposisi, brief, output, dan standar. Saat liburan, saya ingin berjalan, melihat, dan merasakan. Kamera besar seringkali mengubah cara kita hadir di sebuah tempat.
Ketiga, saya bukan influencer. Saya tidak datang ke Jepang dengan niat membuat konten. Tidak ada tekanan untuk konsisten, tidak ada kebutuhan untuk bercerita ke audiens. Foto-foto ini murni untuk saya, untuk ingatan saya di masa depan.
Keempat, saya ingin memotret dengan cepat dan jujur. Banyak momen di Osaka terasa kecil tapi bermakna. Cahaya pagi di kamar, tekstur dinding, bayangan jendela, sudut meja. Momen seperti ini tidak menunggu. Handphone memberi kebebasan untuk menangkapnya tanpa berpikir panjang.
Tentang iPhone 14 Pro Max dan Cara Saya Memakainya
Saya menggunakan iPhone 14 Pro Max, dan sebagian besar foto yang saya ambil adalah close-up. Bukan karena ingin pamer detail, tapi karena saya ingin mendekat. Mendekat ke cahaya, ke tekstur, ke suasana.
Saya memotret dalam format RAW DNG. File ini memberi ruang bernapas saat editing. Highlight bisa ditarik, shadow bisa dibuka, warna bisa lebih jujur. Ini bukan soal membuat foto terlihat dramatis, tapi soal menjaga perasaan yang saya rasakan saat menekan shutter.
Proses edit saya lakukan di Lightroom Mobile versi premium. Workflow-nya sederhana. Sedikit exposure, sedikit contrast, bermain di color mix, dan berhenti sebelum foto terasa terlalu sempurna. Saya ingin foto-foto ini tetap terasa seperti liburan, bukan hasil produksi.
Foto Kamar dan Hal-Hal Kecil yang Layak Diingat
Ada beberapa foto kamar yang saya ambil menggunakan handphone. Cahaya pagi yang masuk dari jendela, sudut ruangan, meja, amenities, dan detail yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain. Tapi justru hal-hal kecil inilah yang biasanya paling jujur saat kita mengingat sebuah perjalanan.
Kelebihan Memotret dengan Handphone Saat Liburan
Kelebihan paling jelas adalah kecepatan dan kemudahan. Tidak ada jarak antara niat dan eksekusi. Handphone juga membuat kita tidak terlalu terlihat seperti turis yang sibuk bekerja. Kita lebih menyatu dengan ruang.
Kelebihan lainnya adalah mental. Saat menggunakan handphone, ekspektasi saya lebih rendah. Anehnya, ini justru membuat hasil foto terasa lebih personal. Saya tidak mengejar kesempurnaan, saya mengejar rasa.
Kekurangan yang Tetap Harus Disadari
Handphone tetap punya batas. Dynamic range memang terdengar sangat menjanjikan foto yang vivid, tapi tidak selalu bisa menggantikan sensor besar. Depth terasa plastik, kontrol rasa terbatas, dan untuk kondisi tertentu kamera tetap unggul.
Yang paling penting, handphone membuat hidup terasa mudah Karena terlalu praktis, kita bisa kehilangan niat. Maka yang harus dijaga bukan alatnya, tapi kesadaran saat memotret.
Kesimpulan
Osaka mengajarkan saya satu hal sederhana. Saat liburan, tidak semua kamera perlu bekerja. Kadang, alat terbaik adalah yang paling dekat dengan tubuh dan pikiran kita.
Fotografi bukan selalu tentang gear, tapi tentang kehadiran. Tentang apakah kita benar-benar melihat sebelum memotret. Dan di perjalanan ini, iPhone di tangan saya lebih dari cukup untuk menyimpan ingatan yang ingin saya bawa pulang.
Jika kalian liburan, tidak apa-apa meninggalkan kamera besar di tas. Yang penting, jangan meninggalkan rasa ingin mengingat.