
Dunia Ini Tidak Kekurangan Ide, Hanya Pengambilan Keputusan.
Kalau di narasikan ulang, cerita ini terdengar seperti masalah manajemen waktu atau kekurangan sumber daya. Tapi semakin sering saya mengalaminya, semakin terasa bahwa masalah utamanya bukan di sana.
Yang macet bukan eksekusi.
Yang kabur bukan ide.
Yang tidak pernah benar-benar terjadi adalah keputusan.
Menariknya, pola seperti ini bukan sesuatu yang unik di dunia kreatif, apalagi di tim kecil. Dalam kajian organisasi dan psikologi kerja, kondisi semacam ini justru sudah lama dibahas, hanya dengan bahasa yang berbeda. Ketika sebuah project dibiarkan menggantung, bukan karena orang-orang di dalamnya tidak bekerja, tetapi karena mereka tidak mampu memastikan apa yang sedang dihadapi, apa dampaknya, dan apa yang seharusnya dilakukan.
Ketidakpastian semacam ini sering disalahartikan sebagai “ruang eksplorasi”. Padahal dalam praktiknya, ia lebih mirip ruang hampa. Semua orang bergerak, tapi tidak ke mana-mana. Energi habis untuk menebak, bukan memutuskan. Dan di saat keputusan akhirnya dipaksa oleh deadline, organisasi cenderung memilih jalan paling aman: kembali ke apa yang sudah ada.
Di titik inilah saya mulai menyadari bahwa apa yang saya alami bukan sekadar kekacauan sehari-hari. Ia adalah pola. Pola di mana ketidakjelasan di awal perlahan berubah menjadi kelumpuhan di tengah, dan berujung pada kompromi di akhir. Sebuah proses yang terlihat sibuk, tapi sesungguhnya menghindari risiko utama: mengambil keputusan yang tegas sejak awal.
Beberapa penelitian organisasi menyebut kondisi ini sebagai bentuk ketidakpastian yang tidak dikelola. Bukan ketidakpastian karena kurang data, tetapi karena tidak ada proses untuk menerjemahkan niat menjadi keputusan. Dan ketika itu terjadi, project tidak benar-benar gagal. Ia hanya menghilang. Menjadi apa yang saya sebut sebagai project siluman.
